BERITA GORONTALO

opini

trending

daerah

Ad Placement

nasional

internasional

Senin, 20 Mei 2024

Kuswanto: Pembangunan IKN Datangkan Banyak Manfaat Positif bagi Masyarakat Lokal

Balikpapan — Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mendatangkan banyak sekali manfaat secara positif bagi masyarakat lokal sekitar.

Plt Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN, Kuswanto mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan upskilling bagi keterampilan warga lokal di Kalimantan Timur.

Hal tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa dalam pembangunan IKN Nusantara, masyarakat mampu merasakan banyak dampak positifnya.

Menurutnya, upaya peningkatan skill tersebut dilakukan dengan berbagai program pemberdayaan kepada masyarakat yang dijalankan oleh berbagai kedeputian.

“Ada kegiatan pemberdayaan masyarakat lokal untuk lahan hidroponik dan berbagai macam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui berbagai kedeputian itu sudah sangat banyak,” kata Kuswanto.

Bukan hanya upaya peningkatan kemampuan saja, namun pemerintah juga menekankan kepada para investor pada pembangunan IKN agar merekrut tenaga lokal.

“Selain itu juga encouragement untuk para investor maupun untuk beberapa pihak yang berinvestasi untuk juga merekrut tenaga lokal,” ucap Kuswanto.

Sementara itu, mengenai dampak positif dari pembangunan IKN Nusantara, Plt Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN tersebut memaparkan banyak hal.

Menurut Kuswanto, kini di beberapa wilayah sekitar IKN telah merasakan bagaimana dampak positif pembangunan Ibu Kota Negara.

“Kalau potensi positif kita sudah rasa, Balikpapan itu sekarang okupansi hotel sangat tinggi, kemudian mungkin Samarinda juga sudah merasakan,” jelasnya.

Dengan kata lain, pembangunan IKN tersebut benar-benar mendatangkan banyak sekali dampak, yang mana secara jangka pendek bahkan sudah mampu dirasakan masyarakat saat ini.

Selain peningkatan okupansi hotel, namun masyarakat lokal setempat di wilayah Kalimantan Timur tentu terbantu dengan banyaknya pembukaan lapangan pekerjaan.

“Belum lagi ditambahkan banyaknya pekerja yang ada di IKN itu tentu sudah membantu masyarakat yang ada di PPU,” ungkap Kuswanto.

Sementara itu, untuk dampak jangka panjangnya sendiri, pemerintah terus mengupayakan agar berbagai wilayah di sekitar IKN ikut tumbuh bersama.

“Dalam jangka panjang kita sedang mengupayakan supaya kota-kota di sekitar IKN itu tumbuh bersama,” jelasnya.

Maka dari itu, sinergi terus digencarkan dengan beberapa daerah mitra seperti Kutai Kartanegara, PPU, Samarinda hingga Balikpapan.

Kuswanto: OIKN Berikan Banyak Insentif Investasi Demi Kelancaran Pembangunan IKN

Balikpapan — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memberikan banyak kemudahan atau insentif investasi kepada para penanam modal. Hal tersebut bertujuan untuk mendukung kelancaran pembangunan IKN Nusantara.

Plt Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN, Kuswanto mengatakan bahwa saat ini pemerintah berfokus untuk mengawal realisasi investasi sebaik mungkin.

Dalam pengawalan akan realisasi investasi di IKN Nusantara tersebut, juga terus dikawal oleh berbagai stakeholder.

“Kita mengawal realisasi investasi itu dengan baik, berkolaborasi semua stakeholder,” kata Kuswanto.

“Tidak hanya OIKN tetapi dengan BKPM, Kementerian PUPR dan kementerian-kementerian lain terkait,” lanjutnya.

Berbicara terkait skema penanaman modal dalam pembangunan IKN, Kuswanto menjelaskan bahwa pihaknya telah mempersiapkan banyak paket investasi.

“Diantaranya terdapat beberapa paket investasi yang di dalamnya berisi insentif seperti pembebasan pajak, tax holiday dan tax exception,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kuswanto menuturkan bahwa pemerintah juga menyediakan kemudahan dengan memberikan hak guna usaha serta hak guna bangunan.

“Pemberian hak guna usaha dan hak guna bangunan sampai dengan waktu tertentu, pembebasan BPHTB dan masih banyak insentif investasi yang diberikan kepada investor,” ungkap Kuswanto.

Berbagai insentif atau kemudahan dalam melakukan investasi terus pemerintah berikan dengan tujuan untuk mendatangkan semakin banyak investor ke Indonesia.

“Insentif tersebut sedang dirumuskan dalam Peraturan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara saat ini sedang bergulir dan sudah juga ditetapkan PMK untuk investasi di sektor perpajakan,” tuturnya.

“Ini tentu saja diharapkan membuat para investor untuk datang dan berinvestasi di IKN,” terang Plt Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN itu.

Bahkan, pemerintah tidak hanya menyiapkan insentif secara fiskal saja, melainkan juga banyak kemudahan secara non-fiskal.

Dengan seluruh kemudahan tersebut, OIKN berharap agar para investor mampu memanfaatkannya sehingga Ibu Kota Negara bisa terbangun dengan baik.

“Selain insentif fiskal, banyak insentif non-fiskal yang juga disiapkan oleh OIKN. Diharapkan nanti para investor bisa memanfaatkan ini semua sehingga IKN dapat terbangun dengan baik,” pungkasnya.

OIKN: Pemerintah Serius Bangun Kota Cerdas di Indonesia Melalui IKN

Balikpapan — Pemerintah RI sangat serius dalam membangun kota cerdas di Indonesia. Keseriusan tersebut tampak dari eksekusi dan keberadaan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Kuswanto selaku Plt Direktur Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN menjelaskan bahwa dalam pembangunan Ibu Kota Negara menerapkan pengembangan beberapa fitur bagi kota cerdas.

“Di IKN kita nanti akan mengembangkan beberapa fitur untuk smart city, seperti smart governance, smart transportation and mobility, smart living, smart natural resources and energy management, smart industry, smart building dan sebagainya,” katanya.

Untuk menyukseskan terwujudnya kota cerdas dalam IKN, pemerintah juga telah mengembangkan roadmap menuju nol emisi serta roadmap smart city.

Bukan hanya itu, namun Kuswanto melanjutkan, bahwa IKN Nusantara juga mengembangkan kebijakan bangunan hijau serta bangunan cerdas.

Menurutnya, realisasi seluruh hal tersebut merupakan wujud komitmen nyata dari pemerintah untuk benar-benar membangun kota cerdas di Indonesia.

“Smart city nanti diharapkan bisa berjalan dengan baik,” ujar Plt Direktur Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN tersebut.

Dengan adanya eksekusi yang sangat serius dari pemerintah tersebut, imbuhnya, menjadikan nantinya ketika masyarakat tinggal di IKN akan mengalami pelayanan publik dengan penerapan teknologi.

“Jadi ketika masyarakat tinggal di IKN, maka seluruh masalah atau seluruh proses pelayanan publik itu dilakukan secara smart, menggunakan teknologi informasi,” jelas Kuswanto.

Membahas mengenai akses pendanaan dari pembangunan IKN Nusantara, Kuswanto mengungkapkan bahwa 80 persen berasal dari investasi, kemudian sisanya, yakni 20 persen dari dana APBN.

Karena sebagian besar pendanaan akan pembangunan IKN berasal dari investasi, maka pihaknya terus mengajak kepada para investor baik dalam maupun luar negeri agar berpartisipasi.

“Tentu saja kita, Otorita Ibu Kota Nusantara berharap investor baik dalam maupun luar negeri itu bisa berpartisipasi,” ajaknya.

Sejauh ini, dari sebanyak 5 kali groundbreaking sejak bulan November lalu, Indonesia telah berhasil mendatangkan investasi hingga senilai 49,6 triliun.

“Sampai dengan hari ini, dari bulan November kita sudah melakukan groundbreaking 5 kali. Dan Insha Allah dalam waktu dekat juga akan ada groundbreaking beberapa investor,” jelas Kuswanto.

“Nah total groundbreaking dari 1 sampai dengan 5 itu mencapai angka 49,6 triliun, itu untuk investasi yang sudah masuk dan groundbreaking,” imbuhnya.

Pembangunan IKN Wujud Nyata Upaya Pemerintah Lakukan Pemerataan Ekonomi di Indonesia

Balikpapan — Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara merupakan wujud nyata dari upaya Pemerintah RI dalam melakukan pemerataan ekonomi di seluruh pelosok Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Kuswanto menjelaskan bahwa keberadaan IKN adalah upaya untuk pemerataan ekonomi.

Bukan hanya itu, menurutnya, IKN juga merupakan sebuah loncatan peradaban bagi bangsa ini demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

“IKN adalah salah satu loncatan peradaban yang ingin Indonesia tempuh karena Indonesia mempunyai visi Indonesia Emas 2045,” kata Kuswanto.

“Salah satu upayanya adalah bagaimana mewujudkan pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia,” lanjutnya.

Dengan keberadaan IKN Nusantara, tambahnya, tentu menjadi motor penggerak pada sektor perekonomian, utamanya di Indonesia bagian Timur.

“Sehingga nantinya perkembangan perekonomian di seluruh wilayah Tanah Air bisa terwujud secara merata, baik itu Indonesia bagian Barat, Tengah hingga Timur,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kuswanto menjelaskan pula konsep pembangunan yang berlangsung dalam IKN.

Untuk konsep pembangunan sendiri, IKN Nusantara memberlakukan hal baru yang bahkan belum banyak negara di dunia yang menerapkannya.

Pemerintah berupaya untuk membangun sebuah kota yang tangguh, berkelanjutan, ramah lingkungan serta penuh akan kecanggihan.

“IKN ini kan membangun dari scratch, artinya konsep-konsep pembangunan yang mungkin diterapkan di banyak negara dan belum diterapkan di Indonesia,” jelas Kuswanto.

“Konsep baru yang resilience, smart, tangguh, sustainable, green, itu akan di-applied di Ibu Kota Nusantara ini,” ungkapnya.

Plt Direktur Pengendalian Penyelenggaraan Pemerintahan dan Perizinan Pembangunan OIKN tersebut menegaskan bahwa kota cerdas dalam Ibu Kota Nusantara tidak hanya sekedar jargon atau simbol.

“Menjadi kota cerdas ini bukan sekedar jargon atau simbol,” tegas Kuswanto.

Maka dari itu, pemerintah benar-benar mengupayakan adanya pembangunan yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat.

“Kota cerdas itu yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakatnya dengan cara-cara yang cepat dan biasanya dibantu dengan teknologi informasi,” pungkasnya.

Tantangan dan Peluang Negara Dunia Dalam World Water Forum 2024 di Bali

Oleh : Aisyah Lubis )*

Bali menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 yang baru saja resmi dibuka, sebuah event internasional yang berlangsung untuk mendiskusikan isu-isu mendesak yang berkaitan dengan air dan keberlanjutan lingkungan. Forum ini menarik perhatian global, dengan ratusan delegasi dari berbagai negara datang untuk membahas strategi, solusi, dan tantangan yang terkait dengan krisis air. Serangkaian tantangan dan peluang pun menghadang negara-negara yang menjadi peserta dalam forum ini.

Pada saat pembukaan WWF ke-10,  Presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah forum air dunia yang ke-10 ini demi meneguhkan komitmen bersama dan merumuskan aksi nyata pengelolaan air yang inklusif dan berkelanjutan. Presiden memberikan ilustrasi bahwa kini  72 persen permukaan bumi yang tertutup air, hanya 1 persen yang bisa diakses dan digunakan sebagai air minum dan keperluan sanitasi.

Isu air pun kian krusial. Presiden menyebut bahkan di tahun 2050, 500 juta petani kecil sebagai penyumbang 80 persen pangan dunia diprediksi paling rentan mengalami kekeringan. Sebagaimana tanpa air tidak ada makanan, tidak ada perdamaian, tidak kehidupan. Oleh sebab itu Presiden di hadapan seluruh delegasi WWF ke-10 yang hadir, mengajak semua pihak bekerja sama mengelola air dengan baik karena setiap tetesnya sangat berharga.

Presiden pun meneguhkan Indonesia sebagai negara dengan luas perairan yang mencapai 65 persen, Indonesia kaya kearifan lokal dalam pengelolaan air, mulai dari sepanjang garis pantai, pinggiran aliran sungai, sampai tepian danau. Masyarakat Indonesia memiliki nilai budaya terhadap air, salah satunya adalah sistem pengairan Subak di Bali yang dipraktekkan sejak abad ke-11 yang lalu, dan diakui sebagai warisan budaya dunia.

Namun, tantangan lain tentunya menghadang, seperti perubahan iklim membawa tantangan yang signifikan. Suhu yang meningkat, perubahan pola cuaca, dan meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti banjir dan kekeringan, semuanya mempengaruhi ketersediaan air. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga pada sektor ekonomi dan pertanian yang bergantung pada sumber daya air yang stabil.

Acara World Water Forum 2024 di Bali adalah kesempatan bagi negara-negara untuk mengumpulkan ide, berbagi praktik terbaik, dan merumuskan strategi yang dapat mengatasi tantangan ini. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana negara-negara dapat mengambil keuntungan dari kesempatan ini dan menjadikannya langkah awal untuk tindakan nyata?

Bertajuk "Water for Shared Prosperity" atau "Air untuk Kemakmuran Bersama", tema ini  membawa penyelenggaraan terdiri dari tiga tahapan proses, yakni Thematic Process, Regional Process, dan Political Process.

Sebagaimana ungkapan Presiden Jokowi saat opening speech WWF ke-10, masyarakat Bali Air adalah kemuliaan yang mengandung nilai spiritual dan budaya yang harus dikelola bersama, hal tersebut sejalan dengan tema kita tahun ini, yaitu air bagi kemakmuran bersama yang bisa dimaknai menjadi 3 prinsip dasar yaitu menghindari persaingan, mengedepankan pemerataan dan kerja sama inklusif serta menyokong perdamaian dan kemakmuran bersama.

World Water Forum adalah tempat di mana kolaborasi lintas negara dapat terjadi. Setiap negara membawa pengalaman dan tantangan unik, dan forum ini menyediakan platform untuk berbagi pengetahuan dan solusi inovatif. Misalnya, Bali memiliki sistem Subak, sebuah metode irigasi tradisional yang diakui oleh UNESCO dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Peterburg, Rusia, yang menjadi contoh bagi negara lain dalam hal pengelolaan air berkelanjutan.

Namun, kolaborasi tidak hanya melibatkan pertukaran pengetahuan. Dalam konteks global, negara-negara perlu bekerja sama untuk mengembangkan teknologi dan strategi yang dapat digunakan secara luas. Dalam World Water Forum ini, pihak-pihak dari berbagai sektor dapat mendiskusikan cara mengatasi krisis air bersih, mengelola sumber daya air, dan mengatasi dampak perubahan iklim.

Usaha-usaha yang telah dilakukan ditunjukkan agar dapat menjadi contoh bagi dunia. Indonesia juga terus memperkuat diplomasi air dalam mencapai SDGs ke-6, yaitu ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak yang hanya tersisa 6 tahun lagi untuk dicapai. Kerja sama internasional melalui intensifitas kolaborasi dan diplomasi air perlu ditingkatkan guna saling belajar pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan berketahanan iklim demi mewujudkan akses air bersih global pada 2030.

Salah satu tantangan terbesar dalam forum internasional adalah memastikan bahwa diskusi dan rekomendasi diterjemahkan menjadi aksi nyata. Negara-negara yang berpartisipasi dalam World Water Forum harus siap untuk berkomitmen pada tindakan yang akan berdampak positif pada krisis air, termasuk investasi dalam infrastruktur, implementasi kebijakan yang lebih ketat, dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan.

World Water Forum 2024 juga menyoroti pentingnya pendekatan holistik. Krisis air tidak hanya mempengaruhi aspek lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan stabilitas sosial. Oleh karena itu, strategi yang dihasilkan dari forum ini mencakup berbagai aspek, mulai dari sanitasi hingga pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki peluang besar untuk menunjukkan komitmen dan kepemimpinannya dalam menghadapi krisis air. World Water Forum 2024 di Bali adalah kesempatan besar bagi negara-negara di dunia untuk bekerja sama dalam mengatasi krisis air global. Tantangan yang dihadapi mungkin besar, tetapi peluang untuk berkolaborasi, berbagi praktik terbaik, dan berkomitmen terhadap aksi nyata juga besar. Dengan komitmen terhadap keberlanjutan, forum ini menjadi langkah penting menuju masa depan yang lebih baik dalam hal pengelolaan air dan lingkungan.

)* Penulis adalah Diaspora Indonesia di Belgia.

World Water Forum Usung Kolaborasi Mewujudkan Tata kelola Air Inklusif dan Berkelanjutan

Oleh : Khalilah Nafisah )*

World Water Forum ke-10 di Bali, adalah salah satu acara terbesar dalam kalender global untuk membahas isu-isu air dan sanitasi. Forum ini tidak hanya menyoroti masalah air bersih, tetapi juga mengedepankan peran penting pemuda dalam memajukan solusi untuk masa depan air bersih. Dengan tema “Water For Shared Prosperity” bertujuan untuk mendorong ide-ide inovatif dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan air yang berkelanjutan.

Presiden Jokowi sangat berkomitmen terhadap pengelolaan air yang inklusif dan berkelanjutan. Program-programnya, seperti yang dilaksanakan bersama WWF, menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan dalam pengelolaan sumber daya air. Ini mencakup perlindungan lingkungan hidup, pemerataan akses terhadap air bersih, pengurangan polusi air, dan pengelolaan secara bijaksana untuk kepentingan jangka panjang.

Kemitraan dengan organisasi seperti WWF membantu pemerintah memperoleh pengetahuan dan dukungan yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan dan program yang efektif dalam pengelolaan air. Dengan pendekatan inklusif, semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal, swasta, dan pemerintah daerah, terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa kepentingan semua pihak dipertimbangkan.

Dalam pidato pembukaannya di World Water Forum, Presiden Joko Widodo menyoroti pentingnya memperhatikan sistem tata kelola air tradisional, seperti Subak di Bali, sebagai contoh bagaimana kearifan lokal dapat memberikan kontribusi yang berharga dalam mengelola air secara berkelanjutan.

Presiden Jokowi menekankan bahwa Subak, sebuah sistem irigasi tradisional yang telah ada sejak berabad-abad di Bali, bukan hanya merupakan warisan budaya yang berharga, tetapi juga model yang efektif dalam pengelolaan air dan pertanian yang berkelanjutan. Dia memuji kearifan lokal yang terkandung dalam Subak, termasuk prinsip-prinsip kebersamaan, partisipasi masyarakat, dan pengelolaan bersama sumber daya alam.

Dalam konteks global yang dihadapi tantangan keberlanjutan air yang semakin meningkat, Presiden Jokowi mengajak untuk mengambil inspirasi dari Subak dan sistem tata kelola air tradisional lainnya di seluruh dunia. Dia menggarisbawahi pentingnya memadukan pengetahuan lokal dengan teknologi modern dan praktik terbaik dalam rangka mencapai pengelolaan air yang inklusif dan berkelanjutan.

Melalui penghargaan terhadap kearifan lokal seperti Subak, Presiden Jokowi berharap dapat mendorong pembangunan kebijakan yang lebih holistik dan berbasis pada kearifan lokal dalam upaya mencapai ketahanan air dan pangan yang berkelanjutan di tingkat nasional dan global.

Presiden Joko Widodo, pada pembukaan World Water Forum ke -10, mengajak seluruh dunia untuk memprioritaskan tata kelola air yang berkelanjutan demi keberlanjutan produksi pangan global. Dalam pandangannya, pengelolaan air yang efektif dan inklusif adalah kunci untuk memastikan ketersediaan pangan yang memadai bagi semua orang di masa depan.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan pertumbuhan populasi yang cepat, kebutuhan akan air untuk pertanian, salah satu sektor terbesar pengguna air, semakin meningkat. Namun, sumber daya air yang terbatas dan kerentanan terhadap polusi dan degradasi lingkungan menimbulkan ancaman serius bagi ketahanan pangan global.

Presiden Jokowi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan antar negara dalam mengelola air secara efisien dan berkelanjutan. Hal ini melibatkan peningkatan investasi dalam infrastruktur air, penerapan teknologi inovatif, dan promosi praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Salah satu fokus utama Presiden Jokowi adalah memperkuat peran petani dalam pengelolaan air. Dengan memberdayakan petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menggunakan air secara bijaksana, termasuk melalui penggunaan teknik irigasi yang efisien dan pemantauan kelembaban tanah, kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian sambil menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Dalam konteks global, kerja sama internasional diperlukan lebih dari sebelumnya. Presiden Jokowi mendesak untuk pembentukan kemitraan yang kuat antara negara-negara dalam hal pertukaran pengetahuan dan teknologi, serta koordinasi dalam pengelolaan sumber daya air lintas batas.

Indonesia juga mendorong investasi dan teknologi baru dalam pengelolaan air yang efisien dan berkelanjutan, serta memperkuat kerja sama regional dan global dalam penyelesaian konflik terkait air dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berhubungan dengan air. World Water Forum 2024 berupaya penuh menciptakan lingkungan yang inklusif di mana pemuda dapat berbagi pandangan mereka tanpa hambatan.

World Water Forum ke-10 di Bali menegaskan bahwa peran kolaborasi semua pihak demi masa depan air bersih sangat penting. Dengan melibatkan semua kalangan dalam diskusi dan tindakan, forum ini berusaha menciptakan platform di mana pemuda dapat berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi tantangan air dan sanitasi. Melalui hydro-diplomacy dan pendekatan kolaboratif, World Water Forum 2024 memberikan harapan baru bahwa masa depan air bersih dapat diwujudkan dengan terjalinnya kolaborasi aktif semua elemen masyarakat di berbagai belahan dunia..

)* Penulis adalah aktivis isu kepemudaan

Buka World Water Forum, Presiden Jokowi Tegaskan Kembali Komitmen Aksi Nyata Pengelolaan Air Berkelanjutan

Oleh : Wina Arifah )*

World Water Forum ke-10 yang berlangsung di Bali pada 18 – 25 Mei 2024 menjadi ajang penting untuk menemukan solusi bagi tata kelola air di tingkat global. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan status tuan rumah menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk bersama - sama merumuskan aksi nyata pengelolaan air yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan tema "Water for Shared Prosperity", acara ini dihadiri sejumlah sejumlah kepala negara seperti Perdana Menteri (PM) Tajikistan Qohir Rasulzoda, Presiden Sri langka Ranil Wickremesinghe, dan Presiden Fiji Ratu Wiliame Maivalili Katonivere. Krisis air bersih yang terus meningkat dan perubahan iklim yang semakin tidak terduga, menjadi latar belakang bagi forum ini untuk merumaskan perubahan positif dalam mengelola sumber daya air.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pengelolaan air harus dilakukan dengan baik karena menyangkut ketahanan pangan hingga dapat mengganggu perdamaian karena air merupakan salah satu sumber kehidupan.

Selain itu Presiden jokowi juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki pengalaman dalam pengelolaan air dengan pendekatan kearifan lokal untuk mengatur air salah satunya adalah sistem pengairan Subak di Bali yang dipraktekkan sejak abad ke-11 yang lalu, dan diakui sebagai warisan budaya dunia.

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia telah memperkuat infrastruktur airnya dengan membangun 42 bendungan, 1,18 juta hektare jaringan irigasi, 2156 km pengendali banjir dan pengamanan pantai, serta merehabilitasi 4,3 juta hektare jaringan irigasi.

World Water Forum diselenggarakan bertujuan untuk memperkuat kolaborasi dan kemitraan global dalam menemukan solusi dan mengatasi tantangan terkait air dan sanitasi. Selain tujuan utama tersebut, terdapat beberapa tujuan turunan yang ingin dicapai pada setiap penyelenggaraannya. Pertama, meningkatkan nilai strategis air dengan membangun komitmen politik untuk kemajuan dalam manajemen air dan sanitasi (SDGs 6). Kedua, meningkatkan kesadaran terhadap air sebagai isu penting secara global. Ketiga, sebagai ajang multi-stakeholder untuk mendiskusikan dan berbagi pengalaman, serta mengembangkan pengetahuan dan praktik terbaik dalam tata kelola air dan sanitasi.

Sejak pertemuan kedua di Den Haag, penyelenggaraan World Water Forum telah menghasilkan Ministerial Declaration yang berisi komitmen-komitmen politik dari negara-negara peserta. Isu-isu utama yang terus berkembang hingga pertemuan kesembilan mencakup berbagai aspek penting terkait dengan air dan sanitasi.

Beberapa isu yang menonjol adalah hak dasar untuk mengakses air dan sanitasi berkualitas, serta nexus atau koneksi antara air, makanan, energi, kesehatan, dan perubahan iklim. Isu lain yang menjadi fokus adalah penguatan kolaborasi dan kemitraan dalam integrasi manajemen sumber daya air untuk mencapai ketahanan air, termasuk pengelolaan air lintas batas dan pendanaan inovatif bagi pengelolaan air berkelanjutan.

Selain itu, penyelenggaraan World Water Forum juga membahas pemajuan inovasi teknologi dalam mendukung tata kelola manajemen air dan sanitasi, serta upaya mengatasi bencana yang berkaitan dengan air. Inklusivitas dalam manajemen air dan sanitasi pun menjadi perhatian penting, di mana seluruh pemangku kepentingan dan komunitas lokal terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan. Isu-isu ini terus menjadi fokus dalam berbagai forum untuk mendorong solusi yang berkelanjutan dan inklusif dalam menghadapi tantangan air global.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menyampaikan pertemuan di Bali hari ini, Indonesia sebagai tuan rumah berharap dunia dapat saling bergandengan tangan secara berkesinambungan untuk dapat memperkuat komitmen kolaborasi dalam mengatasi tantangan global terkait air.

Sejak awal kehadirannya di berbagai forum internasional, Indonesia selalu konsisten mendorong agar persoalan air diangkat ke level tertinggi. Negara memahami pentingnya air sebagai sumber daya vital dan kebutuhan fundamental bagi manusia. Oleh karena itu, dorongan kuat dari para pengambil kebijakan diperlukan untuk memastikan bahwa persoalan air mendapatkan perhatian yang layak di tingkat global.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Firdaus Ali menyatakan Indonesia tidak hanya bertekad menyukseskan WWF ke-10, tapi juga mendorong output dan outcome bisa dieksekusi oleh negara-negara di dunia pada level proyek dan aksi nyata di lapangan.

World Water Forum di Bali adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dengan tantangan yang dihadapi dunia terkait air, forum ini menjadi kesempatan untuk menyatukan pemangku kepentingan dan bekerja sama dalam menciptakan solusi. Air adalah sumber kehidupan. Air juga merupakan symbol keseimbangan dan keharmonisan. Tapi jika tidak dikelola dgn baik air juga dapat menjadi sumber bencana.

Dari diskusi hingga implementasi, World Water Forum menjadi titik awal untuk aksi nyata yang dapat mengatasi krisis air global dan dampak perubahan iklim.

Dengan kolaborasi dan inovasi, tantangan dapat diatasi, dan peluang untuk masa depan yang lebih baik terbuka lebar. World Water Forum adalah arah baru untuk keberlanjutan air, dan penyelenggaraan WWF menjadi momen bersejarah bagi komunitas global yang bekerja sama untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

)* Penulis Adalah Pengamat Kebijakan Publik Lembaga Gala Indomedia

Ad Placement

daerah

opini

trending