Tokoh Masyarakat Berperan Penting Perangi Radikalisme - BERITA GORONTALO

Selasa, 10 Januari 2023

Tokoh Masyarakat Berperan Penting Perangi Radikalisme

Oleh : Janu Farid Kesar )*

Radikalisme terus dicegah agar tidak makin menyebar luas karena jika dibiarkan saja maka bangsa ini akan rusak karenanya. Tokoh masyarakat diharap bekerja sama dalam mencegah penyebaran radikalisme, sehingga penyebaran paham terlarang itu dapat dihentikan.

Kelompok radikal berbuat apa saja sekehendak hati dan sering memaksakan kewenangan dan berujung pada kekerasan. Jangan sampai hal ini terjadi di negeri ini karena sama saja bagai mimpi buruk yang jadi kenyataan. Radikalisme masih bercokol di Indonesia. Kelompok radikal memanfaatkan momen ketika era reformasi dimulai, dan mereka diam-diam masuk ke Indonesia, lalu berusaha melebarkan sayapnya dengan kaderisasi di mana-mana.

Ketika radikalisme dan terorisme sudah terlanjur masuk ke Indonesia maka PR selanjutnya adalah pemberantasan. Untuk menangkal radikalisme di Indonesia maka harus ada peran penting dari tokoh masyarakat. Polres Pamekasan mengadakan dialog dan mengunjungi para tokoh agama serta tokoh masyarakat di Pamekasan, Madura.

Brigadir Lionel Parizki, Bhabinkamtibmas Desa Tagangser, Pamekasan, Madura, menyatakan bahwa kegiatan, sambang, dan dialog dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat bertujuan untuk menangkal masuknya paham radikalisme. Selain itu, tujuan lainnya adalah mempersempit pergerakan pelaku terorisme.

Dalam artian, polisi sebagai sahabat rakyat mengadakan dialog dan pendekatan ke tokoh masyarakat, agar tercipta kolaborasi dalam menolak radikalisme. Sebagai tokoh masyarakat maka ia menyetujui seruan untuk anti radikalisme. Ia juga berterima kasih karena aparat sanagt rendah hati dan mendatangi rakyat untuk mengadakan dialog dari hati ke hati.

Para tokoh masyarakat amat berperan penting untuk memerangi radikalisme. Penyebabnya karena tokoh masyarakat sangat dihormati dan warga akan mengikuti langkahnya untuk menjauh dari radikalisme. Jika tokoh masyarakat sangat nasionalis maka warganya juga nasionalis dan tidak mau terpengaruh oleh radikalisme dan terorisme.

Peran tokoh masyarakat sangat penting karena warga akan meneladani mereka, walau tidak punya jabatan tinggi di pemerintahan. Tokoh masyarakat mendapat tempat istimewa di tengah masyarakat dan dianggap sebagai orang yang dituakan. Oleh karena itu ia harus nasionalis dan anti radikalisme, agar tidak ada warga negara Indonesia yang terlibat radikalisme serta terorisme.

Tokoh masyarakat harus bekerja sama untuk menumpas radikalisme. Penyebabnya karena ia adalah WNI yang wajib membela negara sehingga mencegah tersebarnya radikalisme sama saja dengan membela Indonesia. Melapor ke pihak berwajib ketika ada kegiataan yang mencurigakan bukan berarti paranoid dan takut akan kelompok radikal, melainkan suatu cara untuk mencegah penyebaran radikalisme di Indonesia.

Sementara itu, Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) Komjen Pol Boy Rafli Amar menyatakan bahwa kerja sama dengan tokoh masyarakat merupakan implementasi dari skema pentahelix untuk mencegah penyebaran radikalisme.

Skema petahelix adalah kerja sama untuk menghalau radikalisme dan terorisme, yang merupakan kolaborasi antara lima pihak: pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan pengusaha. Dalam hal ini, ormas mewakili masyarakat Indonesia.

Dengan skema pentahelix maka diharap penyebaran radikalisme bisa dengan mudah diatasi.  Penyebabnya karena ada kerja sama dan jika ada kolaborasi maka suatu masalah bisa dengan cepat diatasi. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri untuk mengatasi radikalisme, oleh karena itu seluruh elemen masyarakat, terutama tokoh masyarakat, diharap bekerja sama dan membantu, agar kelompok teroris dan radikal bisa dengan cepat diusir dari Indonesia.

Tokoh masyarakat diharap bisa lebih sensitif dan mengamati sekitar karena bisa jadi ada kelompok radikal yang sedang menyaru. Bisa jadi memang mereka yang terlalu tertutup atau bahkan terbuka dan menyiarkan tentang jihad dan negara khilafah, merupakan anggota kelompok radikal. Laporan akan cepat ditangani oleh Densus 88 antiteror untuk diadakan penyelidikan dan penyidikan.

Intinya, sebagai warga negara Indonesia yang baik, seorang tokoh masyarakat tidak boleh cuek. Akan tetapi ketika ada yang mencurigakan bisa diselidiki lalu dilanjutkan pelaporan ke aparat. Satu laporan bisa berbuah banyak karena bisa jadi gembong teroris dan radikal tertangkap dan ia tak bisa lagi membuat kekacauan di Indonesia.

Tokoh masyarakat wajib bersinergi dalam mengatasi penyebaran radikalisme. Apalagi saat ini radikalisme dan terorisme tersebar tak hanya oleh alumni ISIS tetapi juga situs dan akun media sosial yang berisi tentang paham tersebut. Internet menjadi lahan penyebaran radikalisme yang sangat subur.

Peran tokoh masyarakat penting untuk membina warganya dalam pengawasan keluarganya. Jangan sampai ada anak-anak yang jadi korban radikalisme gara-gara terpapar di media sosial.

Untuk memberantas radikalisme maka diperlukan sinergi yang baik antara tokoh masyarakat, aparat, dan pemerintah. Jangan hanya mengandalkan pemerintah karena warga sipil juga bisa memiliki inisiatif untuk menangkal radikialisme. Intinya harus perhatian terhadap sekeliling dan tidak boleh mengabaikan jika ada yang sekiranya dicurigai sebagai kelompok radikal.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda